Ketika pemerintah menargetkan Indonesia Emas 2045, banyak yang membayangkan negeri ini akan menjadi kekuatan ekonomi besar dunia. Namun, visi itu tak akan berarti tanpa fondasi manusia yang unggul dan mandiri. Pertumbuhan ekonomi, industri canggih, atau infrastruktur megah hanya ilusi jika masyarakatnya tidak memiliki kemampuan berpikir kritis dan keberanian berusaha. Karena sejatinya, masa depan Indonesia tidak dibangun oleh beton, melainkan oleh manusia yang berpendidikan dan berjiwa wirausaha.
Pertanyaannya: apakah arah kebijakan pendidikan dan ekonomi kita hari ini sudah menuju ke sana? Ataukah kita masih terjebak dalam rutinitas lama yang sekadar melahirkan pencari kerja, bukan pencipta peluang?
Jika ingin benar-benar mencapai Indonesia Emas, maka pendidikan dan kewirausahaan harus menjadi dua poros utama pembangunan. Bukan sebagai jargon, melainkan sebagai sistem yang hidup dalam keseharian masyarakat. Pendidikan harus melahirkan pola pikir produktif dan solutif, sedangkan kewirausahaan memberi ruang untuk menguji gagasan di dunia nyata. Ketika keduanya bertemu, terciptalah ekosistem manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan zaman.
Sekolah yang Menghidupkan Gagasan
Selama ini pendidikan di Indonesia lebih banyak berfokus pada hafalan dan kepatuhan. Siswa diajarkan untuk menjawab soal, bukan untuk mempertanyakan kenyataan. Padahal, negara yang besar dibangun oleh orang-orang yang berani berpikir berbeda. Untuk itu, kita harus mulai menata ulang arah pendidikan—bukan hanya dari kurikulum, tapi dari cara pandang terhadap belajar itu sendiri.
Sekolah seharusnya menjadi ruang yang menghidupkan gagasan, bukan mematikan rasa ingin tahu. Siswa perlu diajak berdialog, bereksperimen, dan gagal dengan cara yang sehat. Guru berperan bukan sebagai penguji, tapi sebagai mentor yang menumbuhkan nalar. Pendidikan yang seperti ini tidak hanya melahirkan ijazah, tetapi juga keberanian untuk mencoba dan bertanggung jawab atas pilihan.
Inovasi bukan lahir dari ruang rapat kementerian, melainkan dari ruang kelas yang memberi kebebasan berpikir. Jika sekolah dapat menanamkan rasa percaya diri dan kemampuan beradaptasi, maka anak-anak Indonesia akan tumbuh sebagai pembelajar seumur hidup. Itulah modal pertama menuju bangsa yang mandiri.
Menanam Jiwa Wirausaha Sejak Dini
Kewirausahaan bukan semata urusan bisnis atau jual beli. Ia adalah cara berpikir yang menolak menyerah pada keadaan. Seorang wirausahawan melihat masalah sebagai peluang, bukan hambatan. Maka, menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini adalah bentuk pendidikan karakter paling nyata.
Anak-anak perlu diajak mengenal proses mencipta nilai. Misalnya, membuat produk sederhana, mengelola kegiatan sosial, atau menjalankan proyek kecil yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Dari pengalaman itu, mereka belajar tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian mengambil risiko.
Kewirausahaan juga harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan formal. Bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tapi sebagai bagian dari semua mata pelajaran. Guru matematika bisa mengajarkan logika bisnis; guru bahasa bisa menumbuhkan kemampuan komunikasi dalam memasarkan ide. Dengan begitu, wirausaha tidak lagi dipandang sebagai pilihan cadangan, melainkan sebagai jalur utama bagi mereka yang ingin membangun masa depan.
Mengubah Pola Bantuan Menjadi Pola Kepercayaan
Selama ini, banyak program pemerintah untuk “mendorong wirausaha muda” berhenti pada bantuan modal. Padahal, yang dibutuhkan bukan hanya uang, tapi kepercayaan dan pembinaan jangka panjang. Ketika negara lebih fokus pada angka penyaluran dana ketimbang kualitas pendampingan, maka program wirausaha hanya menjadi proyek tahunan.
Kita perlu mengubah paradigma: dari bantuan menuju pembinaan, dari subsidi menuju sinergi. Pemerintah seharusnya menjadi katalis yang membuka akses—ke pasar, ke teknologi, dan ke jaringan mentorship. Sementara perguruan tinggi dan lembaga masyarakat berperan menumbuhkan kultur riset dan kolaborasi antar bidang. Dengan begitu, wirausaha muda tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari gerakan ekonomi berbasis pengetahuan.
Dari Desa ke Dunia
Salah satu kekuatan tersembunyi Indonesia adalah potensi desa. Namun, selama ini desa sering hanya diposisikan sebagai penerima kebijakan, bukan pelaku utama. Padahal, jika kewirausahaan dikembangkan di tingkat lokal, desa bisa menjadi motor ekonomi baru. Bukan hanya dengan produk pertanian, tetapi juga lewat pariwisata, energi terbarukan, dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Pendidikan kewirausahaan di desa bisa dimulai dari hal kecil: pelatihan mengelola usaha mikro, digitalisasi produk, hingga kolaborasi antar BUMDes. Dengan dukungan teknologi, desa tidak lagi bergantung pada kota, tetapi mampu membangun jejaring ekonomi mandiri. Inilah bentuk nyata Indonesia Emas yang tumbuh dari akar sendiri, bukan meniru model luar negeri.
Menyiapkan Generasi Mandiri
Indonesia 2045 akan dihuni oleh generasi muda yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka akan menjadi tenaga kerja, pemimpin, dan pembuat kebijakan. Karena itu, cara kita mendidik mereka hari ini akan menentukan nasib bangsa di masa depan. Apakah mereka tumbuh menjadi pekerja yang menunggu perintah, atau pemikir yang menciptakan peluang?
Untuk itu, kolaborasi antara dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah harus dipererat. Kampus perlu menjadi inkubator ide, bukan pabrik lulusan. Dunia usaha harus berani menampung kegagalan dan mendukung riset-riset baru. Pemerintah berperan menciptakan regulasi yang memberi ruang bagi eksperimen sosial dan ekonomi.
Kita tidak butuh banyak strategi yang rumit. Kita hanya butuh keberanian untuk mempercayai manusia Indonesia. Jika setiap anak diberikan kesempatan untuk belajar dan berkreasi tanpa rasa takut gagal, maka masa depan itu akan datang dengan sendirinya.
Percaya pada Diri Sendiri
Menuju Indonesia Emas bukan soal menunggu 2045 tiba, melainkan mulai menyalakan api hari ini. Kita sudah punya modal besar—penduduk muda, kekayaan alam, dan semangat gotong royong. Namun, semua itu tidak akan berarti jika bangsa ini terus ragu terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Pendidikan dan kewirausahaan bukan sekadar dua kebijakan, tapi dua napas yang memberi hidup pada cita-cita besar bangsa. Jika keduanya tumbuh berdampingan, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara maju, tetapi juga negara yang percaya pada kekuatannya sendiri.
Dan dari kepercayaan itulah, Indonesia Emas akan lahir—bukan sebagai mimpi, melainkan sebagai kenyataan yang kita ciptakan bersama.
